Posted by : Unknown
Minggu, 24 Mei 2015
Sholat Jamak yaitu sholat yg dilaksanakan dengan mengumpulkan dua sholat wajib dalam satu waktu, seperti sholat Zuhur dengan Asar dan sholat Magrib dengan sholat Isya (khusus dalam perjalanan). Adapun pasangan sholat yang bisa dijamak adalah sholat Dzuhur dengan Ashar atau sholat Maghrib dengan Isya. Sholat jamak dibedakan menjadi dua tipe yakni:
• Jama' Taqdim penggabungan pelaksanaan dua sholat dalam satu waktu dengan cara memajukan sholat yang belum masuk waktu ke dalam sholat yang telah masuk waktunya (seperti penggabungan pelaksanaan sholat Asar dengan sholat Zuhur pada waktu sholat Zuhur atau pelaksanaan sholat Isya dengan sholat Magrib pada waktu sholat Magrib).
• Jama' Ta'khir penggabungan pelaksanaan dua sholat dalam satu waktu dengan cara mengundurkan sholat yang sudah masuk waktu ke dalam waktu sholat yang berikutnya (seperti penggabungan pelaksanaan sholat Zuhur dengan sholat Asar pada waktu sholat Asar, atau pelaksanaan sholat Magrib dengan sholat Isya pada waktu sholat Isya).
Syarat jamak takdim
1. Tertib. Apabila musafir akan melakukan jamak sholat dengan jamak taqdim, maka dia harus mendahulukan sholat yang punya waktu terlebih dahulu. Semisal musafir akan menjamak sholat maghrib dengan shoalt isya', maka dia harus mengerjakan sholat maghrib terlebih dahulu. Apabila yang dikerjakan terlebih dahulu adalah sholat isya', maka sholat sholat isya'nya tidak sah. Dan apabila dia masih mau melakukan jamak, maka harus mengulangi sholat isya'nya setelah sholat maghrib.
2. Niat jamak pada waktu sholat yang pertama. Apabila musafir mau melakukan sholat jamak dengan jamak taqdim, maka diharuskan niat jamak pada waktu pelaksanaan sholat yang pertama. Jadi, selagi musholli masih dalam sholat yang pertama (asal sebelum salam), waktu niat jamak masih ada, namun yang lebih baik, niat jamak dilakukan bersamaan dengan takbiratul ihram.
3. Muwalah (bersegera). Antara kedua sholat tidak ada selang waktu yang dianggap lama. Apabila dalam jamak terdapat pemisah (renggang waktu) yang dianggap lama, seperti melakukan sholat sunnah, maka musholli tidak dapat melakukan jamak dan harus mengakhirkan sholat yang kedua serta mengerjakannya pada waktu yang semestinya.
4. Masih berstatus musafir sampai selesainya sholat yang kedua. Orang yang menjamak sholatnya harus berstatus musafir sampai selesainya sholat yang kedua. Apabila sebelum melaksanakan sholat yang kedua ada niatan muqim, maka musholli tidak boleh melakukan jamak, sebab udzurnya dianggap habis dan harus mengakhirkan sholat yang kedua pada waktunya.
Syarat jamak ta'khir
1. Niat menjamak ta'khir pada waktu shalat yang pertama. Misalnya, jika waktu shalat zhuhur telah tiba, maka ia berniat akan melaksanakan shalat zhuhur tersebut nanti pada waktu ashar.
2. Pada saat datangnya waktu shalat yang kedua, ia masih dalam perjalanan. Misalnya, seseorang berniat akan melaksanakan shalat zhuhur pada waktu ashar. Ketika waktu ashar tiba ia masih berada dalam perjalanan. Dalam jamak ta'khir, shalat yang dijamak boleh dikerjakan tidak menurut urutan waktunya. Misalnya shalat zhuhur dan ashar, boleh dikerjakan zhuhur dahulu atau ashar dahulu. Di samping itu antara shalat yang pertama dan yang kedua tidak perlu berturut-turut (muwalat). Jadi boleh diselingi dengan perbuatan lain, misalnya shalat sunat rawatib.
Sholat Qashar adalah melakukan sholat dengan meringkas/mengurangi jumlah raka'at sholat yang bersangkutan. Sholat Qashar merupakan keringanan yang diberikan kepada mereka yang sedang melakukan perjalanan (safar). Adapun sholat yang dapat diqashar adalah sholat dzhuhur, ashar dan isya, dimana raka'at yang aslinya berjumlah 4 dikurangi/diringkas menjadi 2 raka'at saja.
Dalil Naqli Sholat Qashar
Ø “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar sholat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS an-Nisaa’ 101).
Ø Dari ‘Aisyah ra berkata : “Awal diwajibkan sholat adalah dua rakaat, kemudian ditetapkan bagi sholat safar dan disempurnakan (4 rakaat) bagi sholat hadhar (tidak safar).” (Muttafaqun ‘alaihi).
Ø Dari ‘Aisyah ra berkata: “Diwajibkan sholat 2 rakaat kemudian Nabi hijrah, maka diwajibkan 4 rakaat dan dibiarkan sholat safar seperti semula (2 rakaat).” (HR Bukhari) Dalam riwayat Imam Ahmad menambahkan : “Kecuali Maghrib, karena Maghrib adalah sholat witir di malam hari dan sholat Subuh agar memanjangkan bacaan di dua rakaat tersebut.”
Siapa Yang Diperbolehkan Sholat Qashar
Sholat qashar merupakan salah satu keringanan yang diberikan Allah. Sholat qashar hanya boleh dilakukan oleh orang yang sedang bepergian (musafir). Dan diperbolehkan melaksanakannya bersama Sholat Jamak.
Jarak Qashar
Adalah Ibnu Umar ra dan Ibnu Abbas ra mengqashar salat dan buka puasa pada perjalanan menempuh jarak 4 burd yaitu 16 farsakh. Ibnu Abbas menjelaskan jarak minimal dibolehkannya qashar salat yaitu 4 burd atau 16 farsakh. 1 farsakh = 5541 meter sehingga 16 Farsakh = 88,656 km. Dan begitulah yang dilaksanakan sahabat seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Sedangkan hadits Ibnu Syaibah menunjukkan bahwa qashar salat adalah perjalanan sehari semalam. Dan ini adalah perjalanan kaki normal atau perjalanan unta normal. Dan setelah diukur ternyata jaraknya adalah sekitar 4 burd atau 16 farsakh atau 88,656 km. Dan pendapat inilah yang diyakini mayoritas ulama seperti imam Malik, imam asy-Syafi’i dan imam Ahmad serta pengikut ketiga imam tadi.
Tentang masafah (jarak tempuh) yang seseorang dibolehkan mengqoshor shalat, Ibnu al-Mundzir menceriterakan, bahwa ada kurang lebih 20 pendapat ulama yang berbeda-beda tentang itu.
Lama Waktu Qashar
Jika seseorang musafir hendak masuk suatu kota atau daerah dan bertekad tinggal disana maka dia dapat melakukan qashar dan jama’ salat. Menurut pendapat imam Malik dan Asy-Syafi’i adalah 4 hari, selain hari masuk kota dan keluar kota. Sehingga jika sudah melewati 4 hari ia harus melakukan salat yang sempurna. Adapaun musafir yang tidak akan menetap maka ia senantiasa mengqashar salat selagi masih dalam keadaan safar.
Berkata Ibnul Qoyyim: “Rasulullah SAW tinggal di Tabuk 20 hari mengqashar salat.” Disebutkan Ibnu Abbas dalam riwayat Bukhari: “Rasulullah SAW melaksanakan salat di sebagian safarnya 19 hari, salat dua rakaat. Dan kami jika safar 19 hari, salat dua rakaat, tetapi jika lebih dari 19 hari, maka kami salat dengan sempurna.”
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Salat_Jamak dan http://id.wikipedia.org/wiki/Salat_Qashar
• Jama' Taqdim penggabungan pelaksanaan dua sholat dalam satu waktu dengan cara memajukan sholat yang belum masuk waktu ke dalam sholat yang telah masuk waktunya (seperti penggabungan pelaksanaan sholat Asar dengan sholat Zuhur pada waktu sholat Zuhur atau pelaksanaan sholat Isya dengan sholat Magrib pada waktu sholat Magrib).
• Jama' Ta'khir penggabungan pelaksanaan dua sholat dalam satu waktu dengan cara mengundurkan sholat yang sudah masuk waktu ke dalam waktu sholat yang berikutnya (seperti penggabungan pelaksanaan sholat Zuhur dengan sholat Asar pada waktu sholat Asar, atau pelaksanaan sholat Magrib dengan sholat Isya pada waktu sholat Isya).
Syarat jamak takdim
1. Tertib. Apabila musafir akan melakukan jamak sholat dengan jamak taqdim, maka dia harus mendahulukan sholat yang punya waktu terlebih dahulu. Semisal musafir akan menjamak sholat maghrib dengan shoalt isya', maka dia harus mengerjakan sholat maghrib terlebih dahulu. Apabila yang dikerjakan terlebih dahulu adalah sholat isya', maka sholat sholat isya'nya tidak sah. Dan apabila dia masih mau melakukan jamak, maka harus mengulangi sholat isya'nya setelah sholat maghrib.
2. Niat jamak pada waktu sholat yang pertama. Apabila musafir mau melakukan sholat jamak dengan jamak taqdim, maka diharuskan niat jamak pada waktu pelaksanaan sholat yang pertama. Jadi, selagi musholli masih dalam sholat yang pertama (asal sebelum salam), waktu niat jamak masih ada, namun yang lebih baik, niat jamak dilakukan bersamaan dengan takbiratul ihram.
3. Muwalah (bersegera). Antara kedua sholat tidak ada selang waktu yang dianggap lama. Apabila dalam jamak terdapat pemisah (renggang waktu) yang dianggap lama, seperti melakukan sholat sunnah, maka musholli tidak dapat melakukan jamak dan harus mengakhirkan sholat yang kedua serta mengerjakannya pada waktu yang semestinya.
4. Masih berstatus musafir sampai selesainya sholat yang kedua. Orang yang menjamak sholatnya harus berstatus musafir sampai selesainya sholat yang kedua. Apabila sebelum melaksanakan sholat yang kedua ada niatan muqim, maka musholli tidak boleh melakukan jamak, sebab udzurnya dianggap habis dan harus mengakhirkan sholat yang kedua pada waktunya.
Syarat jamak ta'khir
1. Niat menjamak ta'khir pada waktu shalat yang pertama. Misalnya, jika waktu shalat zhuhur telah tiba, maka ia berniat akan melaksanakan shalat zhuhur tersebut nanti pada waktu ashar.
2. Pada saat datangnya waktu shalat yang kedua, ia masih dalam perjalanan. Misalnya, seseorang berniat akan melaksanakan shalat zhuhur pada waktu ashar. Ketika waktu ashar tiba ia masih berada dalam perjalanan. Dalam jamak ta'khir, shalat yang dijamak boleh dikerjakan tidak menurut urutan waktunya. Misalnya shalat zhuhur dan ashar, boleh dikerjakan zhuhur dahulu atau ashar dahulu. Di samping itu antara shalat yang pertama dan yang kedua tidak perlu berturut-turut (muwalat). Jadi boleh diselingi dengan perbuatan lain, misalnya shalat sunat rawatib.
Sholat Qashar adalah melakukan sholat dengan meringkas/mengurangi jumlah raka'at sholat yang bersangkutan. Sholat Qashar merupakan keringanan yang diberikan kepada mereka yang sedang melakukan perjalanan (safar). Adapun sholat yang dapat diqashar adalah sholat dzhuhur, ashar dan isya, dimana raka'at yang aslinya berjumlah 4 dikurangi/diringkas menjadi 2 raka'at saja.
Dalil Naqli Sholat Qashar
Ø “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar sholat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS an-Nisaa’ 101).
Ø Dari ‘Aisyah ra berkata : “Awal diwajibkan sholat adalah dua rakaat, kemudian ditetapkan bagi sholat safar dan disempurnakan (4 rakaat) bagi sholat hadhar (tidak safar).” (Muttafaqun ‘alaihi).
Ø Dari ‘Aisyah ra berkata: “Diwajibkan sholat 2 rakaat kemudian Nabi hijrah, maka diwajibkan 4 rakaat dan dibiarkan sholat safar seperti semula (2 rakaat).” (HR Bukhari) Dalam riwayat Imam Ahmad menambahkan : “Kecuali Maghrib, karena Maghrib adalah sholat witir di malam hari dan sholat Subuh agar memanjangkan bacaan di dua rakaat tersebut.”
Siapa Yang Diperbolehkan Sholat Qashar
Sholat qashar merupakan salah satu keringanan yang diberikan Allah. Sholat qashar hanya boleh dilakukan oleh orang yang sedang bepergian (musafir). Dan diperbolehkan melaksanakannya bersama Sholat Jamak.
Jarak Qashar
Adalah Ibnu Umar ra dan Ibnu Abbas ra mengqashar salat dan buka puasa pada perjalanan menempuh jarak 4 burd yaitu 16 farsakh. Ibnu Abbas menjelaskan jarak minimal dibolehkannya qashar salat yaitu 4 burd atau 16 farsakh. 1 farsakh = 5541 meter sehingga 16 Farsakh = 88,656 km. Dan begitulah yang dilaksanakan sahabat seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Sedangkan hadits Ibnu Syaibah menunjukkan bahwa qashar salat adalah perjalanan sehari semalam. Dan ini adalah perjalanan kaki normal atau perjalanan unta normal. Dan setelah diukur ternyata jaraknya adalah sekitar 4 burd atau 16 farsakh atau 88,656 km. Dan pendapat inilah yang diyakini mayoritas ulama seperti imam Malik, imam asy-Syafi’i dan imam Ahmad serta pengikut ketiga imam tadi.
Tentang masafah (jarak tempuh) yang seseorang dibolehkan mengqoshor shalat, Ibnu al-Mundzir menceriterakan, bahwa ada kurang lebih 20 pendapat ulama yang berbeda-beda tentang itu.
Lama Waktu Qashar
Jika seseorang musafir hendak masuk suatu kota atau daerah dan bertekad tinggal disana maka dia dapat melakukan qashar dan jama’ salat. Menurut pendapat imam Malik dan Asy-Syafi’i adalah 4 hari, selain hari masuk kota dan keluar kota. Sehingga jika sudah melewati 4 hari ia harus melakukan salat yang sempurna. Adapaun musafir yang tidak akan menetap maka ia senantiasa mengqashar salat selagi masih dalam keadaan safar.
Berkata Ibnul Qoyyim: “Rasulullah SAW tinggal di Tabuk 20 hari mengqashar salat.” Disebutkan Ibnu Abbas dalam riwayat Bukhari: “Rasulullah SAW melaksanakan salat di sebagian safarnya 19 hari, salat dua rakaat. Dan kami jika safar 19 hari, salat dua rakaat, tetapi jika lebih dari 19 hari, maka kami salat dengan sempurna.”
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Salat_Jamak dan http://id.wikipedia.org/wiki/Salat_Qashar
